Tuesday, November 13, 2012

Hepatitis B

Hepatitis B
Klasifikasi dan bahan-bahan eksternal
ICD-10 B16.,
B18.0-B18.1
ICD-9 070.2-070.3
DiseasesDB 5765
MedlinePlus 000279
eMedicine med/992  ped/978
?Hepatitis B virus
Micrograph showing hepatitis B virions
Micrograph showing hepatitis B virions
Klasifikasi virus
Kelas: Kelas VII (dsDNA-RT)
Famili: Hepadnaviridae
Genus: Orthohepadnavirus
Spesies: Virus Hepatitis B
Hepatitis B adalah suatu penyakit hati yang disebabkan oleh "Virus Hepatitis B" (VHB), suatu anggota famili Hepadnavirus[1] yang dapat menyebabkan peradangan hati akut atau menahun yang pada sebagian kecil kasus dapat berlanjut menjadi sirosi hati atau kanker hati.[2] Mula-mula dikenal sebagai "serum hepatitis" dan telah menjadi epidemi pada sebagian Asia dan Afrika.[3] Hepatitis B telah menjadi endemik di Tiongkok dan berbagai negara Asia.[4]
Penyebab Hepatitis ternyata tak semata-mata virus. Keracunan obat, dan paparan berbagai macam zat kimia seperti karbon tetraklorida, chlorpromazine, chloroform, arsen, fosfor, dan zat-zat lain yang digunakan sebagai obat dalam industri modern, bisa juga menyebabkan Hepatitis. Zat-zat kimia ini mungkin saja tertelan, terhirup atau diserap melalui kulit penderita. Menetralkan suatu racun yang beredar di dalam darah adalah pekerjaan hati. Jika banyak sekali zat kimia beracun yang masuk ke dalam tubuh, hati bisa saja rusak sehingga tidak dapat lagi menetralkan racun-racun lain.[5]
  

Diagnosis

Dibandingkan virus HIV, virus Hepatitis B (HBV) seratus kali lebih ganas (infectious), dan sepuluh kali lebih banyak (sering) menularkan. Kebanyakan gejala Hepatitis B tidak nyata.[6]
Hepatitis B kronis merupakan penyakit nekroinflamasi kronis hati yang disebabkan oleh infeksi virus Hepatitis B persisten. Hepatitis B kronis ditandai dengan HBsAg positif (> 6 bulan) di dalam serum, tingginya kadar HBV DNA dan berlangsungnya proses nekroinflamasi kronis hati. Carrier HBsAg inaktif diartikan sebagai infeksi HBV persisten hati tanpa nekroinflamasi. Sedangkan Hepatitis B kronis eksaserbasi adalah keadaan klinis yang ditandai dengan peningkatan intermiten ALT>10 kali batas atas nilai normal (BANN). Diagnosis infeksi Hepatitis B kronis didasarkan pada pemeriksaan serologi, petanda virologi, biokimiawi dan histologi. Secara serologi, pemeriksaan yang dianjurkan untuk diagnosis dan evaluasi infeksi Hepatitis B kronis adalah : HBsAg, HBeAg, anti HBe dan HBV DNA (4,5). Pemeriksaan virologi, dilakukan untuk mengukur jumlah HBV DNA serum sangat penting karena dapat menggambarkan tingkat replikasi virus. Pemeriksaan biokimiawi yang penting untuk menentukan keputusan terapi adalah kadar ALT. Peningkatan kadar ALT menggambarkan adanya aktivitas kroinflamasi. Oleh karena itu pemeriksaan ini dipertimbangkan sebagai prediksi gambaran histologi. Pasien dengan kadar ALT yang menunjukkan proses nekroinflamasi yang lebih berat dibandingkan pada ALT yang normal. Pasien dengan kadar ALT normal memiliki respon serologi yang kurang baik pada terapi antiviral. Oleh sebab itu pasien dengan kadar ALT normal dipertimbangkan untuk tidak diterapi, kecuali bila hasil pemeriksaan histologi menunjukkan proses nekroinflamasi aktif. Sedangkan tujuan pemeriksaan histologi adalah untuk menilai tingkat kerusakan hati, menyisihkan diagnosis penyakit hati lain, prognosis dan menentukan manajemen anti viral. [7]
Pada umumnya, gejala penyakit Hepatitis B ringan. Gejala tersebut dapat berupa selera makan hilang, rasa tida k enak di perut, mual sampai muntah, demam ringan, kadang-kadang disertai nyeri sendi dan bengkak pada perut kanan atas. Setelah satu minggu akan timbul gejala utama seperti bagian putih pada mata tampak kuning, kulit seluruh tubuh tampak kuning dan air seni berwarna seperti teh.[7]
Ada 3 kemungkinan tanggapan kekebalan yang diberikan oleh tubuh terhadap virus Hepatitis B pasca periode akut. Kemungkinan pertama, jika tanggapan kekebalan tubuh adekuat maka akan terjadi pembersihan virus, pasien sembuh. Kedua, jika tanggapan kekebalan tubuh lemah maka pasien tersebut akan menjadi carrier inaktif. Ketiga, jika tanggapan tubuh bersifat intermediate (antara dua hal di atas) maka penyakit terus berkembang menjadi hepatitis B kronis.[7]

Penularan

Hepatitis B merupakan bentuk Hepatitis yang lebih serius dibandingkan dengan jenis hepatitis lainnya.[2] Penderita Hepatitis B bisa terjadi pada setiap orang dari semua golongan umur.[8] Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan virus Hepatitis B ini menular. [9]
  • Secara vertikal, cara penularan vertikal terjadi dari Ibu yang mengidap virus Hepatitis B kepada bayi yang dilahirkan yaitu pada saat persalinan atau segera setelah persalinan.
  • Secara horisontal, dapat terjadi akibat penggunaan alat suntik yang tercemar, tindik telinga, tusuk jarum, transfusi darah, penggunaan pisau cukur dan sikat gigi secara bersama-sama (Hanya jika penderita memiliki penyakit mulut (sariawan, gusi berdarah,dll), lendir (berciuman) atau luka yang mengeluarkan darah serta hubungan seksual dengan penderita.
Sebagai antisipasi, biasanya terhadap darah-darah yang diterima dari pendonor akan di tes terlebih dulu apakah darah yang diterima reaktif terhadap Hepatitis, Sipilis dan HIV.
Sesungguhnya, tidak semua yang positif Hepatitis B perlu ditakuti. Dari hasil pemeriksaan darah, dapat terungkap apakah ada riwayat pernah kena dan sekarang sudah kebal, atau bahkan virusnya sudah tidak ada. Bagi pasangan yang hendak menikah, tidak ada salahnya untuk memeriksakan pasangannya untuk menenularan penyakit ini.

Perawatan

Hepatitis yang disebabkan oleh infeksi virus menyebabkan sel-sel hati mengalami kerusakan sehingga tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Pada umumnya, sel-sel hati dapat tumbuh kembali dengan sisa sedikit kerusakan, tetapi penyembuhannya memerlukan waktu berbulan-bulan dengan diet dan istirahat yang baik.[2]
Hepatitis B akut umumnya sembuh, hanya 10% menjadi Hepatitis B kronik (menahun) dan dapat berlanjut menjadi sirosis hati atau kanker hati.[8] Saat ini ada beberapa perawatan yang dapat dilakukan untuk Hepatitis B kronis yang dapat meningkatkan kesempatan bagi seudorang penderita  penyakit ini. Perawatannya tersedia dalam bentuk antiviral seperti lamivudine,adefovir, telbivudine dan modulator sistem seperti interferon.Selain itu, ada juga pengobatan tradisional yang dapat dilakukan. Tumbuhan obat atau herbal yang dapat digunakan untuk mencegah dan membantu pengobatan Hepatitis diantaranya mempunyai efek sebagai hepatoprotektor, yaitu melindungi hati dari pengaruh zat toksik yang dapat merusak sel hati, juga bersifat anti radang, kolagogum dan khloretik, yaitu meningkatkan produksi empedu oleh hati. Beberapa jenis tumbuhan obat yang dapat digunakan untuk pengobatan Hepatitis, antara lain yaitu temulawak (Curcuma xanthorrhiza), kunyit (Curcuma longa), sambiloto (Andrographis paniculata), meniran (Phyllanthus urinaria), daun serut/mirten, jamur kayu/lingzhi (Ganoderma lucidum), akar alang-alang (Imperata cyllindrica), rumput mutiara (Hedyotis corymbosa), pegagan (Centella asiatica), buah kacapiring (Gardenia augusta), buah mengkudu (Morinda citrifolia), jombang (Taraxacum officinale).selain itu juga ada pengobatan alternatif lain Hepatitis B Dari Wikipedia seperti hijamah/bekam yang bisa menyembuhkan segala penyakit hepatitis, asal dilakukan dengan benar dan juga dengan standar medis.[2]

Catatan

  1. ^ Zuckerman AJ (1996). Hepatitis Viruses. In: Baron's Medical Microbiology (Baron S et al, eds.) (edisi ke-4th ed.). Univ of Texas Medical Branch. ISBN 0-9631172-1-1.
  2. ^ a b c d "CBN Portal". Swipa. Diakses pada 10 Maret 2007.
  3. ^ Ryan KJ; Ray CG (editors) (2004). Sherris Medical Microbiology (edisi ke-4th ed.). McGraw Hill. hlm. pp. 544–51. ISBN 0-8385-8529-9.
  4. ^ Alberts B, Johnson A, Lewis J, Raff M, Roberts K, Walter P (2002). Molecular Biology of the Cell (edisi ke-4th). Garland. NCBI Bookshelf) ISBN 0-8153-3218-1.
  5. ^ "Republika Online". Swipa. Diakses pada 10 Maret 2007.
  6. ^ "Tabloid Nova Online". Swipa.
  7. ^ a b c "Website Resmi Kalbe Farma". Swipa.
  8. ^ a b "Ikatan Dokter Indonesia". Swipa. Diakses pada 10 Maret 2007.
  9. ^ "Dinas Kesehatan Jakarta". Swipa. Diakses pada 10 Maret 2007.
  10. ^ Lau GKK et al (2005). "Peginterferon Alfa-2a, lamivudine, and the combination for HBeAg-positive chronic hepatitis B". N Engl J Med 352 (26): 2682-95. PMID 15987917.

Hepatitis A

Hepatitis A

Hepatitis A adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus yang disebarkan oleh kotoran/tinja penderita; biasanya melalui makanan (fecal - oral), bukan melalui aktivitas seksual atau melalui darah. Hepatitis A paling ringan dibanding hepatitis jenis lain (B dan C). Sementara hepatitis B dan C disebarkan melalui media darah dan aktivitas seksual dan lebih berbahaya dibanding Hepatitis A.

Masa inkubasi

Penularan virus Hepatitis A atau Hepatitis Virus tipe A (HVA) melalui fecal oral, yaitu virus ditemukan pada tinja. Virus ini juga mudah menular melalui makanan atau minuman yang sudah terkontaminasi, juga terkadang melalui hubungan seks dengan penderita.
Gejala Hepatitis A biasanya tidak muncul sampai Anda memiliki virus selama beberapa minggu. Hepatitis A sangat terkait dengan pola hidup bersih. Dalam banyak kasus, infeksi Hepatitis A tidak pernah berkembang hingga separah Hepatitis B atau C sehingga tidak akan menyebabkan kanker hati. Meski demikian, Hepatitis A tetap harus diobati dengan baik karena mengurangi produktivitas bagi yang harus dirawat di rumah sakit.
Waktu terekspos sampai kena penyakit kira-kira 2 sampai 6 minggu. Penderita akan mengalami gejala-gejala seperti demam, lemah, letih, dan lesu, pada beberapa kasus, seringkali terjadi muntah-muntah yang terus menerus sehingga menyebabkan seluruh badan terasa lemas. Demam yang terjadi adalah demam yang terus menerus, tidak seperti demam yang lainnya yaitu pada demam berdarah, tbc, thypus, dll.

Gejala

Seringkali tidak ada bagi anak kecil;
Hepatitis A dapat dibagi menjadi 3 stadium:
  • Pendahuluan (prodromal) dengan gejala letih, lesu, demam, kehilangan selera makan dan mual;
  • Stadium dengan gejala kuning (stadium ikterik); dan
  • Stadium kesembuhan (konvalesensi). Gejala kuning tidak selalu ditemukan. Untuk memastikan diagnosis dilakukan pemeriksaan enzim hati, SGPT, SGOT. Karena pada hepatitis A juga bisa terjadi radang saluran empedu, maka pemeriksaan gama-GT dan alkali fosfatase dapat dilakukan di samping kadar bilirubin.
Tanda dan gejala Hepatitis A yaitu:
  • Kelelahan
  • Mual dan muntah
  • Nyeri perut atau rasa tidak nyaman, terutama di daerah hati (pada sisi kanan bawah tulang rusuk)
  • Kehilangan nafsu makan
  • Demam
  • Urin berwarna gelap
  • Nyeri otot
  • Menguningnya kulit dan mata (jaundice).

Masa pengasingan yang disarankan

Selama 2 minggu setelah gejala pertama atau 1 minggu setelah penyakit kuning muncul. Pasien juga diharapkan menjaga kebersihan. Dan lebih baik dirawat dirumah sakit agar mendapat bantuan medis yang memadai

Pencegahan

Kasus-kasus ringan Hepatitis A biasanya tidak memerlukan pengobatan dan kebanyakan orang yang terinfeksi sembuh sepenuhnya tanpa kerusakan hati permanen.
Perilaku hidup bersih seperti mencuci tangan pakai sabun sebelum makan dan sesudah dari toilet adalah salah satu cara terbaik untuk melindungi diri terhadap virus Hepatitis A. Orang yang dekat dengan penderita mungkin memerlukan terapi imunoglobulin. Imunisasi hepatitis A bisa dilakukan dalam bentuk sendiri (Havrix) atau bentuk kombinasi dengan vaksin hepatitis B (Twinrix). Imunisasi hepatitis A dilakukan dua kali, yaitu vaksinasi dasar dan booster yang dilakukan 6-12 bulan kemudian, sementara imunisasi hepatitis B dilakukan tiga kali, yaitu dasar, satu bulan dan 6 bulan kemudian. Imunisasi hepatitis A dianjurkan bagi orang yang potensial terinfeksi seperti penghuni asrama dan mereka yang sering jajan di luar rumah.
Tidak ada pengobatan yang spesifik untuk Hepatitis A, sebab infeksinya sendiri biasanya akan sembuh dalam 1-2 bulan. Namun untuk mengurangi dampak kerusakan pada hati sekaligus mempercepat proses penyembuhan, beberapa langkah penanganan berikut ini akan diberikan saat dirawat di rumah sakit.
1. Istirahat. Tujuannya untuk memberikan energi yang cukup bagi sistem kekebalan tubuh dalam memerangi infeksi.
2. Anti mual. Salah satu dampak dari infeksiHhepatitis A adalah rasa mual, yang mengurangi nafsu makan. Dampak ini harus diatasi karena asupan nutrisi sangat penting dalam proses penyembuhan.
3. Istirahatkan hati. Fungsi hati adalah memetabolisme obat-obat yang sudah dipakai di dalam tubuh. Karena hati sedang mengalami sakit radang, maka obat-obatan yang tidak perlu serta alkohol dan sejenisnya harus dihindari selama sakit.
Pencegahannya untuk Hepatitis A adalah melakukan vaksinasi yang juga tersedia untuk orang-orang yang berisiko tinggi.

Indonesia akan Produksi Obat ARV Dalam Negeri

Vera Farah Bararah - detikHealth
Rabu, 24/10/2012 10:19 WIB

Jakarta, Selama ini obat antiretroviral (ARV) yang dikonsumsi oleh pasien AIDS masih diimpor dari luar negeri. Tapi kini, Indonesia akan memproduksi obat ARV buatan dalam negeri.

Pada 3 September 2012, pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) No 76 Tahun 2012 mengenai pelaksaan paten oleh pemerintah terhadap obat antiviral dan antiretroviral. Hal ini memungkinkan bagi Indonesia untuk memproduksi sendiri obat-obat ARV.

"Begini, tadinya obat-obat ARV yang masing-masing pabrik obat punya hak paten. Namun demikian, kita ada UU No 24 Tahun 2001 yang memungkinkan pemerintah untuk memakai hak paten tersebut untuk hal-hal yang merupakan kebutuhan masyarakat yang mendesak atau life saving," ujar Menkes dr Nafsiah Mboi, SpA, MPH dalam acara Indonesia Berkomitmen 'Getting to Zero on HIV/AIDS' di Gedung Kemenkes, Jakarta, dan ditulis Rabu (24/10/2012).

Menkes menjelaskan oleh karena itu pemerintah memutuskan untuk beberapa obat ARV itu hak patennya diambil oleh pemerintah. Kemudian pemerintah akan menunjuk Kimia Farma dan Biofarma sebagai BUMN untuk memproduksi ARV tersebut di dalam negeri.

ARV adalah terapi obat anti retroviral yang mengkombinasikan beberapa jenis obat-obatan dan telah direkomendasikan untuk menangani pasien AIDS secara luas.

Menkes menuturkan jika obat ARV ini bisa diproduksi dalam negeri, maka ada beberapa keuntungan yang bisa didapat, yaitu:
1. Kesinambungan, sehingga tidak usah takut lagi akan terjadi stockout.
2. Harganya akan menjadi lebih murah sehingga menjamin bahwa pasien AIDS bisa tetap dapat obat ARV sesuai kebutuhannya.

Obat anti retroviral (ARV) yang dikonsumsi tidak hanya membantu orang yang terinfeksi HIV tetap bisa hidup normal dan sehat, namun obat ini juga diketahui bisa mencegah terjadinya penularan pada orang lain yang tidak terinfeksi.

Pada buku pedoman penanggulangan pasien yang terdahulu, seseorang yang terinfeksi HIV/AIDS akan diberikan obat ARV (Anti retroviral) jika nilai CD4-nya mencapai angka 200. Tapi dalam buku pedoman penanggulangan pasien yang baru, orang yang terinfeksi HIV akan diberikan ARV jika angka CD4 nya mencapai 350. Hal ini berarti pengobatan diberikan lebih awal atau lebih dini daripada sebelumnya.

Nilai CD4 menunjukkan nilai imunitas/kekebalan/daya tahan tubuh yang diindikasikan oleh sel T dalam darah. Jika nilai CD4 semakin kecil maka orang tersebut akan semakin berisiko terkena infeksi oportunistik.


(ver/vit)

Hepatitis

Hepatitis adalah peradangan pada hati karena toxin, seperti kimia atau obat ataupun agen penyebab infeksi. Hepatitis yang berlangsung kurang dari 6 bulan disebut "hepatitis akut", hepatitis yang berlangsung lebih dari 6 bulan disebut "hepatitis kronis".

Penyebab

Hepatitis biasanya terjadi karena virus, terutama salah satu dari kelima virus hepatitis, yaitu A, B, C, D atau E. Hepatitis juga bisa terjadi karena infeksi virus lainnya, seperti mononukleosis infeksiosa, demam kuning dan infeksi sitomegalovirus. Penyebab hepatitis non-virus yang utama adalah alkohol dan obat-obatan.

Jenis Virus Hepatitis

  • Virus hepatitis A
Virus hepatitis A terutama menyebar melalui vecal oral. Penyebaran ini terjadi akibat buruknya tingkat kebersihan. Di negara-negara berkembang sering terjadi wabah yang penyebarannya terjadi melalui air dan makanan.
  • Virus hepatitis B
Penularannya tidak semudah virus hepatitis A. Virus hepatitis B ditularkan melalui darah atau produk darah. Penularan biasanya terjadi di antara para pemakai obat yang menggunakan jarum suntik bersama-sama, atau di antara mitra seksual (baik heteroseksual maupun pria homoseksual).
Ibu hamil yang terinfeksi oleh hepatitis B bisa menularkan virus kepada bayi selama proses persalinan. Hepatitis B bisa ditularkan oleh orang sehat yang membawa virus hepatitis B. Di daerah Timur Jauh dan Afrika, beberapa kasus hepatitis B berkembang menjadi hepatitis menahun, sirosis dan kanker hati.
  • Virus hepatitis C
Menyebabkan minimal 80% kasus hepatitis akibat transfusi darah. Virus hepatitis C ini paling sering ditularkan melalui pemakai obat yang menggunakan jarum bersama-sama. Jarang terjadi penularan melalui hubungan seksual. Untuk alasan yang masih belum jelas, penderita "penyakit hati alkoholik" seringkali menderita hepatitis C.
  • Virus hepatitis D
Hanya terjadi sebagai rekan-infeksi dari virus hepatitis B dan virus hepatitis D ini menyebabkan infeksi hepatitis B menjadi lebih berat. Yang memiliki risiko tinggi terhadap virus ini adalah pecandu obat.
  • Virus hepatitis E
Virus hepatitis E kadang menyebabkan wabah yang menyerupai hepatitis A, yang hanya terjadi di negara-negara terbelakang.
  • Virus hepatitis G
Jenis baru dari virus hepatitis yang telah terdeteksi baru-baru ini. namun belum terlalu diketahui.
Virus-virus lain yang dapat menyebabkan hepatitis :

Obat ARV Generik Bisa Turunkan Penularan HIV

Tribunnews.com - Rabu, 17 Oktober 2012 09:52 WIB

Obat ARV Generik Bisa Turunkan Penularan HIV
google


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Adanya Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 76 Tahun 2012 tentang Pelaksaaan Paten oleh Pemerintah terhadap Obat Antiviral dan Antiretroviral dianggap mampu menurunkan tingkat penularan baru HIV di Indonesia.
Hal ini diutarakan oleh Aditya Wardhana, Direktur Eksekutif dari Indonesia AIDS Coalition (IAC) dalam rilisnya yang diterima Tribunnews.com, Rabu (17/10/2012).
“Kehadiran Perpres ini membuat kita punya kesempatan mengalahkan epidemi AIDS di Indonesia. Tingkat keberhasilan terapi obat ARV pada ODHA (Orang dengan HIV dan AIDS) terbukti secara ilmiah mampu menurunkan tingkat penularan baru HIV sebesar 96%," jelas Aditya.
Sehingga menurut Aditya, dengan semakin banyaknya jenis ARV, maka diharapkan keberhasilan pengobatan pada ODHA akan semakin meningkat sehingga angka penularan baru bisa menurun. Dan dapat diambil kesimpulan, pengobatan pada ODHA sama dengan pencegahan HIV pada masyarakat.
Lebih lanjut Aditya mengatakan, selama ini ganjalan bagi ODHA dalam memulai dan menjalankan terapi ARV adalah masih adanya ketakutan akan efek samping dari obat yang jenisnya terbatas serta keberlanjutan terapi ini.
Kemudian adanya produksi dalam negeri dengan jenis yang memadai diharapkan akan memupus ketakutan-ketakutan ini. Tak hanya itu, kehadiran ARV secara berkesinambungan juga akan membantu menghilangkan stigma bahwa HIV sama dengan kematian.
"Ini adalah pesan positif bagi kesehatan publik. Dengan terapi ARV, ODHA bisa tetap bertahan sehat sampai berpuluh tahun. Ini merupakan kampanye bagi masyarakat untuk kemudian berani melakukan tes HIV," ungkap Aditya.

Penulis: Theresia Felisiani  |  Editor: Rachmat Hidayat

Monday, November 12, 2012


Kini Ada Vaksin Hepatitis E

Senin, 15 Oktober 2012 10:44 WIB
Metrotvnews.com, New York: Para ahli kedokteran berhasil menemukan vaksin hepatitis E. Penemuan ini dimuat dalam Jurnal Hepatologi yang ditulis oleh European Association for the Study of the Liver. Vaksin baru itu dapat mencegah penyebaran penyakit hepatitis.

Para ahli mengatakan bahwa vaksin ini dapat mencegah infeksi. Namun, bukan berarti orang mengabaikan kebersihan.

Hepatitis E adalah tipe virus yang menyebabkan peradangan. Virus tersebut dapat eksis dalam keadaan tidak aktif dari 2-6 minggu setelah infeksi muncul. Gejala penyakit ini, antara lain kelelahan, sakit kuning, dan rasa sakit di sisi kanan perut.

Virus ini umumnya ditemukan di Timur Tengah, Asia dan Afrika. Biasanya virus ini cepat menyebar melalui air yang kotor atau makanan yang terkontaminasi. (Genius Beauty/****)

Pencegahan dan Terapi Hepatitis B

Minggu, 9 Januari 2011 | 03:30 WIB

Dr Samsuridjal Djauzi

Saya seorang perawat perempuan yang sudah tiga tahun ini bekerja di salah satu rumah sakit. Rumah sakit kami bulan lalu mengadakan vaksinasi Hepatitis B untuk tenaga kesehatan, termasuk perawat. Saya mengikuti program tersebut, tetapi pada waktu skrining diketahui HBsAg saya positif dan anti-HBs saya negatif. Saya tak dapat mengikuti program vaksinasi tersebut karena sudah tertular Hepatitis B. Pemeriksaan lebih lanjut pada dokter spesialis penyakit dalam menyimpulkan bahwa saya merupakan karier Hepatitis B. Kata dokter, dalam tubuh saya terdapat virus Hepatitis B, tetapi virus tersebut tak menimbulkan penyakit pada tubuh saya, tetapi saya dapat menularkan virus tersebut kepada orang lain.
Saya dianjurkan tidak menjadi donor darah. Persoalan yang saya hadapi adalah tahun depan saya merencanakan untuk menikah. Apa yang harus kami lakukan agar suami saya tak tertular Hepatitis B. Bagaimana dengan anak saya nanti karena saya mengetahui Hepatitis B dapat menular dari ibu hamil ke bayinya. Dapatkah dilakukan pencegahan kepada bayi saya nanti agar tak tertular Hepatitis B? Benarkah bayi yang tertular Hepatitis B dari ibunya cenderung akan menjadi Hepatitis kronis? Bagaimana dengan perkembangan terapi Hepatitis B, dapatkah obat herbal menyembuhkan Hepatitis B? Terima kasih atas penjelasan dokter.
M di J
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan agar setiap petugas kesehatan mempunyai antibodi terhadap Hepatitis B. Dalam pekerjaannya sehari-hari, petugas kesehatan berisiko jauh lebih tinggi tertular Hepatitis B dibandingkan bukan petugas kesehatan. Ini dapat dimengerti karena petugas kesehatan sering kali terpajan cairan tubuh penderita.
Kita mengetahui bahwa penularan Hepatitis B terjadi melalui cairan tubuh. Penularan tersebut dapat terjadi vertikal, yaitu dari ibu hamil ke bayinya dan horizontal dari seorang yang mengidap Hepatitis B ke orang lain. Penularan horizontal Hepatitis B melalui transfusi darah, misalnya, dapat terjadi sehingga pemerintah menerapkan semua darah yang akan ditransfusikan harus diskrining Hepatitis B terlebih dahulu. Dengan maraknya kasus HIV di Indonesia, sejak tahun 1992 darah yang akan ditransfusikan, selain diskrining Hepatitis B, juga diskrining untuk HIV.
Hepatitis virus merupakan masalah kesehatan yang penting di dunia. Jumlah pengidap Hepatitis B di dunia diperkirakan sekitar 400 juta orang. Itulah sebabnya mulai tahun ini WHO menetapkan Hepatitis Day pada bulan Juli untuk mengingatkan bahwa Hepatitis virus merupakan salah satu masalah kesehatan yang harus diatasi bersama. Di Indonesia kekerapan Hepatitis B juga tinggi berkisar 5 persen-8 persen. Upaya untuk mencegah penularan Hepatitis B adalah dengan menerapkan hidup bersih serta menjalani vaksinasi.
Hasil vaksinasi di Pulau Lombok pada tahun 1987 berhasil menurunkan kekerapan Hepatitis B pada anak di bawah usia empat tahun dari 6,2% menjadi 1,4%. Berdasarkan pengalaman manfaat vaksinasi Hepatitis B di beberapa provinsi akhirnya pemerintah sejak 1 Maret 1997 memasukkan vaksinasi Hepatitis B dalam program imunisasi rutin. Manfaat vaksinasi Hepatitis B akan meningkat jika pemberian vaksin pertama kali dilaksanakan secara dini, yaitu pada usia bayi 0 sampai 7 hari. Karena sebagian bayi di Indonesia lahir di luar layanan kesehatan (dukun bersalin), diperlukan koordinasi dengan dukun bersalin untuk meningkatkan cakupan vaksinasi Hepatitis B pada bayi.

Eliminasi
Sebenarnya telah ada komitmen dunia untuk eliminasi hepatitis pada tahun 2015 nanti. Meski situasi di banyak negara berkembang mungkin belum memungkinkan, Indonesia harus berusaha keras untuk mewujudkan komitmen tersebut. Sebenarnya sebagian besar Hepatitis B akut akan sembuh dan hanya 5%-10% yang akan menjadi kronik. Risiko menjadi kronik jauh lebih tinggi pada penularan vertikal, bayi yang tertular dari ibunya. Karena kekerapan Hepatitis B yang tinggi, jumlah orang yang menderita Hepatitis B kronik di negeri kita diperkirakan 13 juta orang.
Penderita hepatitis kronik inilah yang perlu diobati sehingga diharapkan pengobatan dapat mencegah penyakit Hepatitis B kronik berkembang menjadi sirosis hati, gagal hati, hepatoma (kanker hati ), serta meningkatkan harapan hidup. Obat herbal fungsinya lebih pada meningkatkan kualitas hidup, tetapi sampai saat ini belum terbukti dapat mematikan virus Hepatitis B sehingga obat herbal hanya digunakan untuk terapi mengurangi gejala. Dewasa ini telah terdapat obat antivirus Hepatitis B, seperti lamivudin, adefovir, entecavir, dan telbivudin, obat ini mampu menghambat replikasi virus Hepatitis B. Sebagian obat hepatitis B, seperti lamivudin, telah lama digunakan sebagai obat untuk infeksi HIV/AIDS.
WHO telah menunjukkan perhatian pada infeksi bersama Hepatitis B dan HIV. Obat antiretroviral yang digunakan untuk HIV dianjurkan digunakan lebih dini jika di samping HIV terdapat juga infeksi Hepatitis B. Di RS Cipto Mangunkusumo, odha pengguna narkoba suntikan di samping terinfeksi HIV biasanya sekitar 18% juga terinfeksi Hepatitis B dan 80% terinfeksi Hepatitis C. Pemerintah telah memberikan subsidi penuh pada terapi HIV/AIDS sehingga odha dapat menikmati obat antiretroviral secara cuma-cuma. Sampai saat ini, penderita Hepatitis B jika menggunakan obat HIV yang punya potensi anti-Hepatitis B masih harus membayar dan harga obatnya cukup mahal. Pemerintah perlu mempertimbangkan kebijakan baru agar penderita Hepatitis B kronik juga dapat memperoleh obat subsidi penuh atau sekurangnya harga obat dapat dijangkau masyarakat.
Mengenai niat Anda untuk menikah tak perlu terganggu karena Hepatitis B. Calon suami Anda hendaknya mempunyai antibodi terhadap Hepatitis B. Jika belum, anjurkan untuk mengikuti vaksinasi Hepatitis B. Anak yang lahir dari ibu Hepatitis B dapat dicegah agar tak tertular Hepatitis B dengan pemberian imunglobulin dan vaksinasi Hepatitis B. Karena itulah, ibu hamil dianjurkan menjalani tes Hepatitis B (dan jangan lupa juga HIV) agar jika diperlukan anak dapat dicegah tak tertular.
Saya mengucapkan selamat bekerja kepada Anda, menolong penderita dan meningkatkan tingkat kesehatan masyarakat. Saya juga mendoakan agar tingkat kesejahteraan perawat di negeri kita akan meningkat sehingga para perawat dapat hidup layak.